DENPASAR — Gubernur Bali Wayan Koster memanfaatkan momen Gala Dinner GHBC 2026 di Gedung Jaya Sabha untuk memaparkan arah pembangunan jangka panjang provinsi itu. Di hadapan para investor dan pelaku usaha global, ia memperkenalkan Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun yang mencakup periode 2025 hingga 2125.
Dalam sambutannya, Koster menyelipkan kebijakan kependudukan yang dinilai tak lazim. Pemerintah Provinsi Bali mendorong setiap keluarga untuk memiliki hingga empat anak.
"Langkah ini penting guna menjaga kelestarian identitas budaya kita, termasuk keberadaan nama tradisional Bali seperti Nyoman dan Ketut agar tidak punah," ujar Koster di hadapan ratusan delegasi.
Orang nomor satu di Bali itu juga bernostalgia mengenang pengalaman saat menjadi Wakil Sekretaris penyelenggaraan World Hindu Federation di Bali pada 1992 silam. Ia mengaku momen menyambut tokoh internasional kala itu membangkitkan semangatnya untuk kembali memeluk keluarga besar Hindu dunia di Pulau Dewata.
GHBC 2026 sendiri berlangsung pada 10–12 Juli 2026 di Kampus Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar. Konferensi ini dihadiri oleh delegasi dari India, Malaysia, Singapura, Nepal, Mauritius, Australia, Uni Emirat Arab (Dubai), dan Indonesia sebagai tuan rumah.
Koster menegaskan bahwa kekuatan utama Bali terletak pada kebudayaan dan Desa Adat yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat. Pariwisata, budaya, dan ekonomi harus berjalan seimbang agar Bali tetap kompetitif.
Founder Hindu Global Entrepreneur Network, Dato Pardip K. Kukreja, mengungkapkan bahwa para investor kelas kakap yang hadir siap menjajaki peluang di sektor strategis. Mulai dari energi terbarukan, ekosistem kendaraan listrik, logistik, teknologi, hingga industri wellness dan pariwisata berkelanjutan.
Dato Pardip memberikan apresiasi tinggi kepada Pemprov Bali. Ia menilai Bali menjadi contoh nyata bagaimana budaya, spiritualitas, kehidupan sosial, dan ekonomi mampu berjalan harmonis di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI).
Melalui Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun, proteksi penuh diberikan pada pelestarian budaya, peningkatan kualitas lingkungan, pengembangan energi bersih, serta penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
"Bali harus tetap eksis sepanjang zaman. Bukan hanya sekadar ada, tetapi tetap memiliki identitas yang kuat, berkualitas, dan mampu bersaing secara tangguh di tingkat global," tegas Koster.
Kesuksesan GHBC 2026 kembali membuktikan posisi Bali di mata dunia. Bukan hanya sebagai destinasi wisata global, melainkan juga pusat pertemuan internasional yang mengawinkan nilai spiritual, budaya, dan ekonomi demi masa depan berkelanjutan.