BALI — Anggapan bahwa mobil listrik hampir tidak perlu perawatan memang tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Faktanya, EV memiliki jadwal dan komponen perawatan yang berbeda secara fundamental dari mobil konvensional. Jika pemilik tidak paham perbedaannya, risiko kerusakan justru bisa lebih besar dan biaya perbaikannya pun bisa lebih mahal.
Perbedaan paling mendasar ada pada sistem penggerak. Mobil listrik tidak punya mesin pembakaran internal, sehingga tidak perlu ganti oli mesin, busi, filter udara, atau timing belt. Namun, ada komponen khas EV yang justru menjadi prioritas utama perawatan.
Meski lebih sedikit, bukan berarti tidak ada. Beberapa item perawatan justru mirip dengan mobil biasa, tapi intervalnya bisa lebih panjang.
Secara umum, biaya perawatan EV lebih rendah karena lebih sedikit komponen bergerak yang perlu diganti. Tidak ada biaya ganti oli, busi, atau timing belt. Namun, jika ada masalah pada baterai atau sistem tegangan tinggi, biaya perbaikannya bisa sangat mahal karena teknisi dan suku cadang masih terbatas di Indonesia.
Pemilik EV disarankan untuk selalu mengikuti buku panduan perawatan dari pabrikan dan tidak melewatkan servis berkala di bengkel resmi yang sudah bersertifikasi untuk kendaraan listrik. Mengabaikan perawatan sistem pendingin baterai, misalnya, bisa berakibat fatal pada performa dan daya tahan baterai.
Salah satu aspek perawatan yang paling berpengaruh adalah kebiasaan mengisi daya. Mengisi baterai hingga 100 persen setiap hari atau membiarkannya kosong terlalu lama justru bisa mempercepat degradasi. Sebagian besar pabrikan merekomendasikan untuk mengisi daya hingga 80-90 persen untuk penggunaan harian, dan hanya mengisi penuh saat akan melakukan perjalanan jauh.
Selain itu, penggunaan pengisi daya cepat (DC fast charging) secara terus-menerus juga bisa meningkatkan suhu baterai dan memperpendek umurnya. Sebaiknya, gunakan pengisi daya lambat (AC) untuk pengisian rutin di rumah.