DENPASAR — Tiga garapan yang dibawakan Sanggar Tari dan Tabuh Rajapala sukses menyedot perhatian penonton dalam Parade Gong Kebyar Anak-anak PKB XLVIII. Mereka menampilkan Tabuh Kreasi Pepanggulan Bayung Bidak, Tari Kreasi Adnyaswari, dan Tari Dolanan Jong Jang Sir. Sambutan hangat berupa tepuk tangan meriah langsung mengalir dari penonton yang memadati lokasi.
Konseptor sekaligus penggarap Sanggar Tari dan Tabuh Rajapala, I Made Ariawan, menjelaskan bahwa garapan Bayung Bidak merangkum spirit ngangkid sebagai awal pelayaran jiwa. Bayung melambangkan penyeimbang, sementara bidak atau layar menjadi penentu arah perjalanan.
“Di tengah riuhnya perjalanan, bayung menjaga agar tidak goyah, sementara bidak mengarahkan menuju tujuan yang selaras dengan Dharma,” tegas Ariawan.
Karya ini terinspirasi dari miniatur jukung sebagai simbol perjalanan melintasi lautan samsara. Ariawan menambahkan, garapan itu menjadi doa agar setiap jiwa mampu menjalani kehidupan dengan seimbang dan terarah menuju Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha.
Berbeda dengan Bayung Bidak, Tari Adnyaswari menggambarkan pelayan perempuan yang menyambut tamu kehormatan. “Diawali dengan gerakan tangan menggambarkan pengastungkara, dilanjutkan dengan gerakan yang lemah gemulai, dinamis serta energik dan diakhiri dengan gerakan tangan menggambarkan paramasanti,” urai Ariawan.
Tarian ini menonjolkan permainan tangan sebagai simbol ucapan selamat datang dan permainan sampur sebagai lambang kesiapan serta keanggunan penari. Iringannya menggunakan Gong Kebyar yang terdiri atas pepeson, pengawak, pengecet, dan pekaad.
Menurut Ariawan, Tari Adnyaswari pertama kali dibawakan pada ajang Pesta Seni tahun 1998 oleh Sekeha Gong Dharma Putra Banjar Guming, Penarungan, Mengwi, Badung. Tarian kreasi baru dengan karakteristik putri halus ini diciptakan oleh Dr Ida Ayu Wimba Ruspawati SST MSn dan penata iringan alm I Wayan Sinti MA.
Sementara itu, Tari Dolanan Jong Jang Sir diambil dari kata Jong yang berarti perahu, Jang berarti taruh atau lepaskan, dan Sir berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti pantai. Jukung kecil dalam tarian ini digunakan sebagai sarana dalam upacara ngangkid bagi anak yang berusia tiga bulan.
“Ini adalah bentuk sebuah penyucian atman yang ada dalam diri. Atma Kertih bukan hanya ajaran memaknai sebuah kematian, tetapi bagaimana cara kita menghargai sebuah kehidupan, menyayangi diri sendiri dan selalu menjaga kesucian atman dalam diri,” ungkap Ariawan.
Ia menambahkan, jukung kecil melambangkan perjalanan hidup mengarungi samudra kehidupan menuju tujuan. “Perahu ini bukan hanya menjadi sebuah permainan, bukan juga hanya sebagai sarana upacara tetapi ini juga menjadi sebuah wadah harapan dan keinginan yang dititipkan ke dalam sebuah pesan dan entah kapan akan terbalaskan,” pesannya.