KLUNGKUNG — Fenomena sekolah favorit yang menjadi rebutan kembali terjadi di Klungkung, Bali. Data hasil SPMB terbaru menunjukkan tiga SMP di pusat kota mengalami kelebihan kuota pendaftar, sementara belasan sekolah negeri lain di wilayah pinggiran justru kekurangan murid.
Ketiga SMP yang menjadi primadona orang tua itu kebanjiran pendaftar hingga melebihi kapasitas yang tersedia. Akibatnya, sejumlah calon siswa terpaksa tidak tertampung di sekolah yang menjadi pilihan pertama mereka.
Fenomena ini bukan hal baru, namun angkanya terus mengkhawatirkan setiap tahun. Para orang tua lebih memilih mendaftarkan anaknya ke sekolah yang dianggap memiliki fasilitas lebih baik dan lokasi strategis di pusat kota.
Di sisi lain, kondisi kontras terjadi di sekolah-sekolah negeri yang berada di wilayah pinggiran Klungkung. Ratusan kursi untuk jenjang SMP negeri dilaporkan kosong melompong karena tidak ada peminat.
Kondisi lebih parah terjadi di jenjang SD negeri. Ribuan kursi di sekolah dasar yang tersebar di desa-desa tidak terisi, menandakan adanya pergeseran preferensi atau mungkin juga dampak dari rendahnya angka kelahiran di wilayah tersebut.
Ketimpangan ini memunculkan pertanyaan besar tentang pemerataan kualitas pendidikan di Klungkung. Orang tua cenderung menganggap sekolah di pusat kota memiliki mutu pengajaran, guru, dan fasilitas yang lebih unggul dibandingkan sekolah di pinggiran.
Akibatnya, terjadi penumpukan siswa di beberapa titik dan kekosongan di titik lain. Hal ini tidak hanya membebani kapasitas sekolah favorit, tetapi juga membuat aset sekolah negeri di pinggiran tidak termanfaatkan secara optimal.
Pemerintah Kabupaten Klungkung melalui dinas pendidikan setempat dihadapkan pada pekerjaan rumah besar. Mereka harus mencari cara untuk mendistribusikan siswa secara lebih merata dan meningkatkan daya tarik sekolah-sekolah di pinggiran.
Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, ketimpangan ini diperkirakan akan terus berulang setiap tahun. Orang tua akan terus berebut kursi di tiga sekolah favorit, sementara sekolah lain hanya menjadi penonton.