BALI — Gempa bumi tektonik itu terjadi pukul 09.09 Wita. Berdasarkan data sementara BMKG, episenter gempa terletak pada koordinat 3,78 Lintang Selatan dan 119,02 Bujur Timur. Wilayah yang merasakan guncangan meliputi Kabupaten Polewali Mandar (Sulbar), Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), serta Kota Makassar di Sulsel.
BMKG belum merilis peta tingkat guncangan (skala MMI) untuk setiap wilayah. Namun, laporan warga menyebutkan getaran terasa selama beberapa detik, terutama di bangunan bertingkat. "Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data," tulis BMKG dalam keterangan resmi yang diterima redaksi.
Lembaga tersebut mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab. Gempa susulan (aftershock) belum terdeteksi hingga pukul 10.00 Wita.
Dengan kedalaman hanya 10 kilometer, gempa ini masuk kategori dangkal. Lokasi pusat gempa di dasar laut Selat Makassar menjadikannya potensi menimbulkan guncangan yang terasa luas. Sepanjang 2026, wilayah pesisir barat Sulawesi Selatan dan selatan Sulawesi Barat memang tercatat aktif secara seismik akibat aktivitas sesar lokal di zona tumbukan lempeng.
Data BMKG menunjukkan, dalam sepekan terakhir, setidaknya ada tiga kali gempa dengan magnitudo di atas 4,0 yang mengguncang wilayah ini. Namun, gempa Kamis pagi menjadi yang terbesar dalam catatan bulan Juli.
Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait dampak gempa. BPBD setempat masih melakukan pemantauan lapangan, terutama di wilayah pesisir selatan yang berdekatan dengan episenter. Di Makassar, sejumlah karyawan perkantoran sempat keluar gedung sebagai prosedur evakuasi mandiri.
Belum ada laporan mengenai gangguan jaringan listrik atau telekomunikasi. Masyarakat diimbau memeriksa kondisi bangunan tempat tinggal dan memastikan tidak ada retakan struktural sebelum kembali beraktivitas di dalam ruangan.