DENPASAR — Bawang merah menjadi biang keladi utama inflasi di Bali pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat, komoditas ini memberikan andil paling besar terhadap kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencapai 3,27 persen secara tahunan.
Data BPS menunjukkan, IHK pada Juni 2026 berada di angka 113,30, melonjak dari posisi 109,71 pada periode yang sama tahun lalu. Selain bawang merah, lima komoditas lain yang juga menyumbang inflasi adalah cabai rawit, beras, minyak goreng, emas perhiasan, dan bahan bakar minyak (BBM).
Kenaikan harga bawang merah di pasar tradisional, seperti Pasar Badung, Denpasar, menjadi pemandangan sehari-hari. Pedagang menata bawang merah di lapaknya pada Senin (6/7/2026), saat harga komoditas ini masih bertahan di level tinggi.
Inflasi yang didorong harga pangan ini langsung dirasakan oleh ibu rumah tangga dan pelaku UMKM kuliner di Bali. Bawang merah dan cabai rawit merupakan bumbu dapur pokok yang sulit disubstitusi, membuat beban belanja rumah tangga meningkat signifikan.
Bagi pedagang di Pasar Badung, kenaikan harga bawang merah juga mempengaruhi volume penjualan. Sebagian pembeli mulai mengurangi jumlah pembelian atau beralih ke bawang putih yang harganya relatif lebih stabil.
Pemerintah Provinsi Bali biasanya merespons lonjakan harga pangan dengan menggelar operasi pasar dan memperkuat koordinasi dengan daerah pemasok. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali mengenai intervensi harga bawang merah.
BPS mengingatkan bahwa tekanan inflasi dari volatile food masih perlu diwaspadai, terutama jelang hari raya dan musim liburan yang meningkatkan permintaan. Data ini menjadi sinyal bagi pemerintah daerah untuk segera mengamankan pasokan dari sentra produksi di luar Bali.