DENPASAR — Bagi perajin pande besi, nelayan, atau siapa pun yang berencana membuat senjata tajam dan alat berbahan besi pada Juli 2026, ada baiknya mencermati dewasa ayu yang telah dihitung dalam tradisi wariga Bali. Hari yang tepat dipercaya membawa berkah, sementara hari yang keliru bisa mendatangkan energi tidak selaras.
Kalender Bali mencatat setidaknya ada empat hari penting di Juli 2026 yang dinilai sangat baik untuk aktivitas ini. Masing-masing hari memiliki karakter energi dan pantangan yang berbeda.
Selasa, 7 Juli 2026, dikenal sebagai Kala Mretyu. Hari ini disebut memiliki energi yang kuat dan sangat tepat bagi pande besi untuk mulai menempa senjata. Momentum ini juga dipercaya baik untuk memulai perjuangan membela kebenaran. Namun, ada pantangan keras: tidak boleh melakukan hubungan seksual dan melaksanakan upacara suci atau yadnya.
Rabu, 8 Juli 2026, adalah Macekan Wadon. Hari ini menjadi yang paling dinanti para pencinta sabungan ayam dan nelayan. Waktu ini sangat baik untuk membuat taji, tombak, dan keris. Keberuntungan juga disebut menyertai pembuatan atau perakitan alat penangkap ikan agar hasil tangkapan melimpah.
Siklus Kala Mretyu kembali hadir pada Sabtu, 11 Juli 2026. Sama seperti sebelumnya, hari ini menyimpan energi kuat untuk memproduksi senjata tajam dan menegakkan keadilan. Pantangannya pun identik: menahan diri dari aktivitas seksual dan segala jenis upacara yadnya.
Puncaknya jatuh pada Minggu, 26 Juli 2026. Hari ini sangat istimewa karena mempertemukan dua perpaduan dewasa sekaligus: Gni Rawana Jejepan dan Macekan Lanang.
Gni Rawana Jejepan adalah hari yang membara dan selaras dengan unsur api. Waktu ini krusial bagi pande besi untuk membakar logam dan membuat senjata tajam. Hari ini juga sangat baik untuk memulai pekerjaan berat yang melibatkan pembakaran besar, seperti mematangkan genteng, batu bata, keramik, hingga gerabah. Sebagai pantangan, hindari mengatapi rumah, melakukan upacara melaspas, dan memulai bercocok tanam.
Berdampingan dengan unsur api, Macekan Lanang juga sangat baik untuk menempa taji, tombak, keris, serta merancang alat penangkap ikan. Namun, pastikan tidak menggelar upacara yadnya pada hari ini karena dinilai tidak tepat.
Masyarakat Bali hingga kini masih merawat tradisi wariga sebagai langkah bijak agar proses pembuatan senjata tajam maupun alat kerja berjalan lancar, aman, dan membawa berkah. Tradisi ini bukan sekadar mitos, melainkan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun untuk menyelaraskan aktivitas manusia dengan siklus alam dan energi spiritual.
Bagi perajin yang ingin hasil tempaannya berkualitas dan membawa energi positif, mencocokkan jadwal kerja dengan dewasa ayu menjadi bagian tak terpisahkan dari proses kreatif mereka.