DENPASAR — Sebanyak 1.200 layang-layang dijadwalkan diterbangkan selama dua hari pelaksanaan SPB Fest #4 yang berlangsung di Pantai Mertasari. Antusiasme masyarakat terlihat sejak pendaftaran peserta dibuka pada 22 Juni lalu yang langsung membeludak di luar perkiraan panitia.
Dalam tradisi Bali, layang-layang memiliki makna filosofis dan religius yang berkaitan dengan Ida Bhatara Siwa serta Sang Hyang Bayu sebagai simbol kekuatan angin. "Layang-layang merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga. Generasi muda Bali, khususnya di Kabupaten Badung, jangan sampai melupakan peninggalan para leluhur. Budaya, adat, dan seni merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan," ujar Anom Gumanti yang juga menjabat sebagai Pembina Sekaa Pelayang Badung.
Legislator asal Kuta itu mengenang pengalamannya sebagai pelayang semasa muda. Menurutnya, perkembangan seni layang-layang Bali saat ini merupakan hasil perjalanan panjang para pelestari budaya terdahulu.
SPB Fest #4 mengusung tema "Bayu Cita Loka" yang merepresentasikan perjalanan Sekaa Pelayang Badung sejak festival pertama hingga tahun keempat. "Bayu" melambangkan energi dan kekuatan angin, "Cita" menggambarkan harapan yang diterbangkan melalui energi positif, sedangkan "Loka" bermakna ketulusan dalam berkolaborasi. Tema ini diwujudkan melalui perpaduan tiga elemen kreatif masyarakat Badung: seni layang-layang, seni rupa, dan seni musik.
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa yang turut hadir dalam pembukaan memberikan apresiasi kepada Sekaa Pelayang Badung yang konsisten menyelenggarakan festival. "Kegiatan ini telah rutin diselenggarakan. Atas nama Pemerintah Kabupaten Badung, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Sekaa Pelayang Badung yang tetap konsisten melaksanakan lomba layang-layang sebagai bagian dari pelestarian budaya," katanya.
Bupati Adi Arnawa menegaskan bahwa penyelenggaraan lomba tidak hanya berorientasi pada kompetisi. "Tujuan kita bukan semata-mata menjadi juara, tetapi bagaimana budaya ini terus lestari. Selain memiliki nilai filosofi yang tinggi, layang-layang juga menjadi salah satu daya tarik pariwisata Kabupaten Badung dan Bali secara umum," ujarnya.
Ketua Sekaa Pelayang Badung sekaligus Ketua Panitia, I Gusti Agung Andra, mengatakan komunitas yang berdiri pada 2023 itu kini menjadi wadah bagi para pemuda dari Badung Utara hingga Badung Selatan. "Melalui Sekaa Pelayang Badung, kami berharap generasi muda Bali terus memiliki kepedulian dan semangat menjaga tradisi layang-layang sebagai bagian dari warisan budaya Bali," katanya.
Gung Andra berharap SPB Fest #4 dapat menjadi ruang kolaborasi komunitas, seniman, pelaku ekonomi kreatif, serta pemerintah dalam memperkuat identitas budaya Bali sekaligus mendukung sektor pariwisata berbasis budaya yang berkelanjutan.
Turut hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut Pembina Sekaa Pelayang Badung sekaligus Anggota DPRD Kabupaten Badung I Made Yudana, perwakilan Dinas Pariwisata Badung, Ketua Pelangi Denpasar, perwakilan Desa Adat Intaran, serta Ketua Tim Ekonomi Kreatif Kabupaten Badung.