DENPASAR — Ribuan warga memadati Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali setiap kali lomba Bapang Barong Ket dan Balaganjur digelar dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48. Antusiasme ini sudah terlihat sejak pukul 16.00 Wita, padahal pertunjukan baru dimulai beberapa jam kemudian.
“Jika ada lomba Balaganjur dan Bapang Barong, Gedung Ardha Candra sudah disesaki penonton mulai pukul 16.00 Wita. Ini menunjukkan antusiasme masyarakat sangat tinggi,” kata Nyoman Sutama, seniman asal Jembrana yang juga juri lomba Balaganjur, Minggu (5/7/2026).
Menurut Sutama, lomba Bapang Barong Ket di PKB telah mengubah wajah kesenian sakral ini. Dulu, penari Barong identik dengan seniman generasi tua karena nilai spiritual yang melekat. Kini, anak-anak muda dari berbagai kabupaten/kota berlomba-lomba belajar dan menjadi penari Barong.
“Perkembangan lomba Bapang Barong Ket sudah luar biasa. Anak muda yang tadinya melihat Barong bagian dari tari sakral yang boleh ditarikan orang tertentu, kini terjawab. Kalau tari tradisi dipelajari dan dimaknai, dipastikan tetap terjaga,” ujar Sutama.
Ia menyoroti dinamika iringan dalam tari Barong. “Barong mengendalikan kendang, dan kendang mengendalikan gending. Bukan sebaliknya. Dengan inovasi iringan, seolah-olah Barong justru dikendalikan oleh musik,” kritiknya.
Budayawan Prof. Dr. I Made Bandem menilai Balaganjur dan Bapang Barong Ket kini mengalahkan popularitas pagelaran lain di PKB. Ia menelusuri sejarah kebangkitan Balaganjur sejak lahirnya Adi Merdangga pada 1984 dan Festival Baleganjur di Denpasar setahun kemudian.
“Sekarang, Balaganjur bukan sekadar musikal. Ada ekosistem pertunjukan lain—menari, berbicara, menyanyi. Ini menjadi fragmentari, tetapi tetap mempertahankan aspek musikal: melodi, ritme, harmoni,” kata mantan Rektor ISI Yogyakarta itu.
Ia menambahkan, lomba ini memiliki peran strategis meningkatkan kualitas seni pertunjukan sekaligus memeratakan kesempatan bagi kantong-kantong budaya di seluruh Bali tanpa mengabaikan mutu.
PKB yang telah berusia 48 tahun sejak 1979 dinilai Prof. Bandem sebagai living monumental. “Lomba-lomba ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas seni pertunjukan yang dilombakan. Pemerataan juga penting—kantong-kantong budaya harus mendapat kesempatan,” katanya.
Ia berharap semangat kompetisi tidak menimbulkan akses negatif. “Esensinya tetap Baleganjur yang dikembangkan. Peserta diharapkan mengikuti kriteria dan menampilkan gaya khas daerah masing-masing,” pungkasnya.