BALI — Kemenangan itu terasa begitu istimewa bagi Eala. Bukan hanya karena ia mengalahkan petenis nomor satu dunia dan juara enam Grand Slam, melainkan karena momen ini adalah buah dari kerja keras yang dimulainya sejak kecil.
"Saya berlatih setiap hari sepulang sekolah dengan kaus kaki kerut, sepatu bersinar, dan pipi tembam saya. Bagi saya yang lebih muda, ini adalah segalanya," ujar Eala kepada BBC TV seusai laga.
Kemenangan ini juga dipersembahkan untuk seluruh warga Filipina. "Ini untuk mereka, keluarga saya, dan semua gadis dengan kaus kaki kerut dan pipi tembam. Ini berarti segalanya," tambahnya.
Ini bukan pertama kalinya Eala mengalahkan Swiatek. Pada 2025, saat masih berusia 19 tahun dan berada di peringkat 100 besar, ia menyingkirkan Swiatek di Miami Open dalam perjalanannya ke semifinal. Saat itu ia juga mengalahkan juara Grand Slam lainnya, Jelena Ostapenko dan Madison Keys.
Sejak terobosan di Miami, peringkat Eala meroket ke 30 besar dunia. Ia memenangkan dua gelar WTA 125, menjadi runner-up di Eastbourne tahun lalu, dan di Berlin baru-baru ini mengalahkan Elena Rybakina serta Elina Svitolina.
Popularitas Eala di Filipina meledak. Antrean panjang mengular di lapangan luar setiap kali ia bertanding, dan pesta nonton digelar di kampung halamannya. Namun, tekanan itu sempat membuatnya kewalahan di Australian Open.
"Saya berusaha menjadi autentik. Meskipun saya sangat berterima kasih atas dukungan, saya, tim, dan keluarga saya lah yang bekerja keras 12 jam sehari di lapangan. Etos kerja itulah yang membuat saya tetap membumi," jelas Eala.
Di visor Eala terukir frasa dalam bahasa Tagalog: 'kapag lumago, hindi na hihinto' — yang berarti 'setelah tumbuh, tidak akan berhenti'. Ia membawa budaya Filipina ke lapangan.
"Saya sangat meresapi kata-kata itu. Lebih dari sekadar tidak terhentikan, ini tentang mimpi dan aspirasi. Sejak kecil saya selalu bermimpi, dan bisa mewujudkannya hanya membuat saya semakin ambisius," katanya.
Eala juga pernah menjadi sampul majalah Vogue Filipina pada 2022 setelah menjadi petenis Filipina pertama yang memenangkan gelar junior Grand Slam di US Open. Tiga tahun lalu, ia menerima ijazah kelulusan dari akademi Rafael Nadal yang diserahkan langsung oleh Swiatek. Kini, ia membuktikan bahwa kata-kata sang juara bertahan tentang 'pantang menyerah' benar-benar ia hayati.