Antigravity dan Codex Bikin "Mantan Programmer" Kembali Bikin Tools Sendiri Tanpa Coding Manual

Penulis: Zulfikar Ahmad  •  Senin, 29 Juni 2026 | 11:01:01 WIB
Seorang jurnalis teknologi di Bali menggunakan Antigravity dan Codex untuk membuat tools tanpa menulis kode manual.

BALI — Bagi sebagian orang, kehilangan kemampuan coding setelah lulus kuliah jurusan Ilmu Komputer bisa jadi sumber rasa bersalah. Namun, seorang jurnalis teknologi yang enggan disebutkan namanya justru menemukan jalan keluar lewat pendekatan yang ia sebut "vibe coding" — membuat program tanpa benar-benar menulis kode secara manual.

Dalam pengakuannya, ia mengaku sudah bertahun-tahun membiarkan skill coding-nya menganggur. "100% ini masalah saya sendiri, tapi seperti banyak lulusan era awal 2010-an, saya tidak pernah benar-benar menetap di satu bidang industri teknologi untuk memanfaatkan kemampuan yang saya bangun selama tiga tahun kuliah," tulisnya.

Ia mengaku tidak pernah benar-benar menikmati proses coding. "Itu selalu terasa seperti kerja keras. Sarana untuk mencapai tujuan. Saya suka tahap penciptaan ide, konseptualisasi, tapi saya bukan orang yang suka implementasi," tambahnya.

Tools AI Jadi Jurus Baru Otomatisasi Tugas Repetitif

Perubahan sikapnya terjadi setelah mencoba Antigravity dan Codex beberapa bulan lalu. Kedua tools ini memungkinkan pengguna memberikan instruksi naratif untuk menghasilkan script atau aplikasi sederhana tanpa harus menulis kode manual.

Ide awalnya muncul dari diskusi dengan rekan kerjanya, Jeff Benjamin, yang menyarankan, "Kenapa kamu tidak coba pakai Codex untuk membuat tools itu sendiri?" Saran sederhana itu membuka pintu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Sebelumnya, ia pernah mencoba Gemini untuk membuat script animasi di After Effects, tapi hasilnya kurang memuaskan. "UI berbasis chat terasa tidak cocok untuk urusan coding," katanya. Namun, Antigravity yang punya antarmuka khusus untuk membantu pengguna mengonsep dan membangun rencana implementasi sebelum AI mulai bekerja, terasa jauh lebih pas.

Hasil Nyata: Tools Kustom Tanpa Ribet Beli Plugin Mahal

Setelah beberapa jam bermain-main, ia berhasil membuat tools untuk otomatisasi tugas-tugas repetitif seperti watermarking gambar, kompresi file, konversi format, hingga penyesuaian warna di Photoshop. "Saya terpukau dengan ide bahwa AI bisa membuatkan alat khusus sesuai kebutuhan saya, dibandingkan membeli plugin generik seharga ratusan pound atau dolar," ujarnya.

Ia menegaskan tidak pernah mengklaim bahwa dirinya yang "membangun" tools tersebut. "Saya secara efektif meng-outsource ide itu ke Gemini, ChatGPT, atau Claude," jelasnya. Dalam enam bulan terakhir, ia sudah membuat beberapa tools pribadi yang hampir mengotomatiskan tugas-tugas kecil yang menyebalkan.

Vibe Coding untuk Produk Massal? Belum Saatnya

Meski antusias, ia mengingatkan bahwa pendekatan "vibe coding" belum cocok untuk produk yang akan dirilis ke publik. "Saya 100% setuju dengan sebagian besar pengembang bahwa Anda seharusnya tidak menerbitkan aplikasi hasil vibe coding kecuali Anda bisa kembali memeriksanya dengan saksama dan tahu persis cara kerja aplikasi Anda," katanya.

Proses dari prototipe hingga produk jadi bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari atau berminggu-minggu. "Anda bisa dapat 80-90% proyek 'jadi', tapi menghabiskan lebih banyak waktu untuk memperbaiki 10% sisanya," tutupnya.

Bagi pengguna Indonesia yang ingin mencoba pendekatan serupa, tools seperti Antigravity dan Codex bisa diakses secara daring. Namun, pastikan Anda memahami batasan teknis dan siap menghabiskan waktu untuk debugging, terutama jika ingin hasil yang benar-benar stabil.

Reporter: Zulfikar Ahmad
Sumber: 9to5google.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top