DENPASAR — Ribuan pasang mata tak berkedip menyaksikan gerakan gemulai Barong Ket Duta Klungkung di Panggung Terbuka Ardha Candra. Gemuruh tepuk tangan menggema sepanjang pertunjukan, menandai suksesnya penampilan yang sarat makna filosofis tersebut.
Bupati Klungkung I Made Satria, didampingi Ketua TP PKK Ny. Eva Satria dan Wakil Bupati Tjokorda Gde Surya Putra, hadir langsung memberikan dukungan. Kehadiran jajaran pimpinan tertinggi daerah itu menjadi bentuk apresiasi nyata bagi para seniman yang unjuk kebolehan di ajang bergengsi tingkat provinsi.
Tidak sekadar lomba tari, penampilan Klungkung tahun ini mengusung konsep yang berakar dari filosofi Barong Ket dalam kepercayaan Hindu Bali. Barong Ket diyakini sebagai perwujudan binatang purba pelindung alam sekaligus penolak bala, yang dikenal dengan sebutan sakral Banaspati Raja.
Kata "Tapuk" berarti atapukan atau tapel yang merujuk pada wajah kepala tanpa badan, sebagaimana konsep Kirthimukha dalam sastra Siwa Purana Tatwa. Sementara "Apunggul" berasal dari kata punggul atau potong, merepresentasikan proses sakral pembuatan tapel Barong Ket yang selalu dilakukan dengan memotong bagian-bagian tertentu dari kayu pule.
"Barong Ket Tapuk Apunggul tidak sekadar nangiang (membangkitkan) sosok Barong Ket secara utuh, melainkan lebih pada pemuliaan asal-usul punggalan tersebut dibentuk," demikian penjelasan dalam konsep pementasan. Inti dari pertunjukan ini adalah prabawa diri berupa Barong yang lahir dari keyakinan Tapaking Tapuk Punggal Apunggul.
Bupati I Made Satria menyampaikan rasa bangga dan kekagumannya atas dedikasi serta totalitas para seniman Sanggar Sangku Mas Getakan. Ia menegaskan bahwa pementasan ini bukan sekadar kompetisi, melainkan media pelestarian nilai tradisi dan spiritualitas yang menjadi identitas masyarakat Bali.
"Dukungan penuh pemerintah akan terus mengalir untuk memastikan ekosistem kesenian di Klungkung tetap hidup, berakar kuat, dan dihargai di tingkat yang lebih luas," ujar Bupati Satria di sela-sela acara.
Dengan konsep yang menggabungkan ritual sakral dan estetika tari, Barong Ket Tapuk Apunggul berhasil meneguhkan posisi Klungkung sebagai kekuatan utama dalam tradisi Barong Ket di Bali. Panggung Ardha Candra malam itu menjadi saksi bagaimana warisan leluhur tetap hidup dan memukau lintas generasi.