Kacamata renang pintar buatan Form memang belum setenar Meta Glasses di darat. Tapi di dunia akuatik, produk ini jadi tolok ukur perangkat wearable untuk perenang. Pendiri Dan Eisenhart menyerahkan versi pertama langsung kepada saya untuk diuji, dan sejak itu perangkat ini jadi andalan pribadi. Namun satu masalah klasik tetap membayangi: harga.
Generasi pertama dibanderol 199 dolar AS. Model terbaru meroket ke 250 dolar AS. Bandingkan dengan kacamata Speedo premium yang cuma 50-80 dolar AS. Kini dengan Smart Swim 2 LT seharga 149 dolar AS, Form mencoba menjembatani kesenjangan itu.
Saya sudah memakai semua versi kacamata Form. Dari segi tampilan dan rasa, Smart Swim 2 LT nyaris identik dengan pendahulunya. Perbedaannya tipis. Bobotnya memang masih lebih berat dari kacamata renang biasa, tapi begitu masuk air, tambahan berat itu tidak terasa signifikan.
Form menyertakan bantalan hidung tambahan agar segel di sekitar lensa lebih rapat. Ini penting untuk kenyamanan saat berenang jarak jauh. Namun pengorbanan di sisi hardware jelas ada — meski tidak sampai menjadi pemecah kesepakatan bagi kebanyakan perenang.
Smart Swim 2 LT tetap membawa layar yang jernih dan pelacakan metrik yang solid. Fitur unggulan yang paling menarik perhatian adalah SwimStraight untuk perairan terbuka. Teknologi ini berfungsi seperti kompas digital yang muncul langsung di lensa, membantu perenang tetap pada jalur tanpa harus berhenti dan melihat ke tepi.
Di kolam renang, kacamata ini menampilkan hitungan waktu, jarak, jumlah kayuhan, dan detak jantung secara real-time. Data muncul tepat di depan mata — tanpa perlu mengangkat kepala atau menyentuh layar jam tangan.
Inilah ironi terbesar. Untuk mendapatkan pengalaman Form yang paling utuh — termasuk analisis teknik renang, metrik performa lanjutan, dan pelatihan terpersonalisasi — pengguna tetap harus merogoh kocek lebih untuk berlangganan. Fitur premium ini tidak disertakan dalam harga 149 dolar AS.
Strategi ini mirip dengan model bisnis perusahaan teknologi wearable lain: hardware dijual murah atau terjangkau, lalu pendapatan digenjot dari layanan berlangganan. Tapi untuk perangkat yang sudah di atas 100 dolar AS, kebijakan ini bisa membuat sebagian kalangan berpikir dua kali.
Bagi perenang Indonesia yang serius — baik atlet, pelatih, atau penggemar triathlon — kacamata ini menawarkan nilai lebih yang konkret. Fitur SwimStraight misalnya, sangat relevan untuk event renang perairan terbuka yang mulai marak di Bali, Lombok, dan Manado.
Namun harga 149 dolar AS plus biaya langganan bulanan bukan angka yang ringan. Ditambah lagi, ketersediaan resmi di Indonesia masih belum jelas. Pembelian kemungkinan besar harus lewat toko online internasional, yang berarti biaya pengiriman dan pajak impor tambahan.
Form telah mengambil langkah tepat dengan menurunkan harga masuk. Tapi pertanyaan besarnya tetap sama: apakah perenang rela membayar dua kali — untuk kacamatanya, lalu untuk kecerdasannya?